Khawatir.. itu bukanlah hal yang asing bagi kita yang mulau menginjak usia dewasa. Semakin dewasa seseorang, semakin ia bergaul deng kekhawatiran. Semua orang pernah merasakannya.
Tahukah kamu jika khawatir berlebihan berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan psikis? Kehidupan kita akan terhambat karena khawatir. Segala rencana kita akan berjalan di luar kehendak kita karena kita khawatir yang berlebihan.
Aku memiliki sebuah cerita di mana aku merasa khawatir dan berhasil melawan rasa khawatir.
Aku adalah seorang anak kuliah semester atas. Aku sedang mengerjakan tugas akhirku. Seperti anak kuliah pada umumnya, aku selalu berkonsultasi dengan dosen mengenai tulisanku. Aku mulai berkonsultasi dari semeter delapan dan belum mendapatkan jawaban hingga semeter sembilan. Orang tua mulai bertanya soal perkembangan tugas akhirku. Aku sendiri menceritakan apa yang aku alami. Namun, kami hanyalah kaum kecil dan tak memiliki kenalan apalagi pengaruh. Menerima apa adanya sesuai dengan jalan adalah hal yang bisa kami lakukan, khususnya diriku.
Semeter sembilan hampir selesai, akan ada semester depan dengan tunggakan kuliah yang baru. Tugas akhir belum ada kejelasan. Belum ada satu kalipun aku ujian dari total tiga kali ujian. Rasa khawatir itu datang. Dan aku mulai bertanya-tanya soal bagaimana dengan masa depanku. Teman-teman seangkatanku sudah mendapatkan gelarnya. Teman akrabku perlahan mulai mendahuluiku, setahuku kami berkerja dalam waktu yang sama.
Aku terpuruk.. tidur malamku mulai terganggu dengan setumpuk masalah dalam otakku.. aku sibuk berpikir bagaimana aku mendapatkan gelar. Jujur saja, keadaan ekonomi keluargaku sedang tidak baik. Aku adalah seseorang yang sangat menjaga tubuhku, dan kini aku mendapati tubuhku terasa aneh. Aku kehilangan nafsu makan. Berhari-hari hingga berminggu-minggu. Aku mulai merasa ada yang salah dengan pola hidupku.
Akhirnya, aku tiba di puncak akan batas dari usahaku. Aku merasa lelah dengan usahaku. Aku merasa ingin berhenti. Sebaris lirik terngiang di kepalaku "Spirit lead me when my trus without boarders, let me walk upon the waters wherever you would call me.. Take my deeper than my faith could ever wonder and my faith will be made stonger in present of my saviour.."
Aku terdiam sejenak. Dan mulai menyanyikan bait lagu tersebut dengan pelan.. perlahan aku menitikan air mata. Segala hal yang ada dalam kepala seolah cair menjadi air mata. Perlahan tapi pasti isi otakku terasa ringan. Dengan mulut masih terus menyanyikan bait lagu tersebut segala hal yang aku ingin sampaikan pada Tuhan serasa diringkas dalam bait tersebut.
Ketika keadaan terlalu sulit untuk menjadi seperti apa yang kita mau, masih ada kemungkinan 0,01% yang mampu merubah keadaan itu. Sekalipun 99,9% buruk, namun tanpa 0,01% itu 99,9% tidak ada artinya.
Masih ada jalan. Datang pada Tuhan. Duduk di kakinya. Dia Tuhan yang mengerti setiap tetesan air mata kita. Dia Tuhan yang mengerti tanpa kita berbicara. Dia mengerti isi hati kita. Datang padanya dan serahkan segala kekhawatiran kita kepada Tuhan.
Jika Tuhan adalah segala-galanya bagi kita, kita akan mendapatkan semua yang kita perlukan.
Dari cerita ini, aku ingin mengajak teman-teman seiman untuk selalu berharap dan percaya pada Tuhan. Sebesar apapun masalah hidup kita, Tuhan lebih besar dari pada segalanya..
God bless..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar