Rabu, 15 Desember 2021

Mengatasi khawatir ala Rohani

 Khawatir.. itu bukanlah hal yang asing bagi kita yang mulau menginjak usia dewasa. Semakin dewasa seseorang, semakin ia bergaul deng kekhawatiran. Semua orang pernah merasakannya.

Tahukah kamu jika khawatir berlebihan berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan psikis? Kehidupan kita akan terhambat karena khawatir. Segala rencana kita akan berjalan di luar kehendak kita karena kita khawatir yang berlebihan.

Aku memiliki sebuah cerita di mana aku merasa khawatir dan berhasil melawan rasa khawatir.

Aku adalah seorang anak kuliah semester atas. Aku sedang mengerjakan tugas akhirku. Seperti anak kuliah pada umumnya, aku selalu berkonsultasi dengan dosen mengenai tulisanku. Aku mulai berkonsultasi dari semeter delapan dan belum mendapatkan jawaban hingga semeter sembilan. Orang tua mulai bertanya soal perkembangan tugas akhirku. Aku sendiri menceritakan apa yang aku alami. Namun, kami hanyalah kaum kecil dan tak memiliki kenalan apalagi pengaruh. Menerima apa adanya sesuai dengan jalan adalah hal yang bisa kami lakukan, khususnya diriku. 

Semeter sembilan hampir selesai, akan ada semester depan dengan tunggakan kuliah yang baru. Tugas akhir belum ada kejelasan. Belum ada satu kalipun aku ujian dari total tiga kali ujian. Rasa khawatir itu datang. Dan aku mulai bertanya-tanya soal bagaimana dengan masa depanku. Teman-teman seangkatanku sudah mendapatkan gelarnya. Teman akrabku perlahan mulai mendahuluiku, setahuku kami berkerja dalam waktu yang sama.

Aku terpuruk.. tidur malamku mulai terganggu dengan setumpuk masalah dalam otakku.. aku sibuk berpikir bagaimana aku mendapatkan gelar. Jujur saja, keadaan ekonomi keluargaku sedang tidak baik. Aku adalah seseorang yang sangat menjaga tubuhku, dan kini aku mendapati tubuhku terasa aneh. Aku kehilangan nafsu makan. Berhari-hari hingga berminggu-minggu. Aku mulai merasa ada yang salah dengan pola hidupku.

Akhirnya, aku tiba di puncak akan batas dari usahaku. Aku merasa lelah dengan usahaku. Aku merasa ingin berhenti. Sebaris lirik terngiang di kepalaku "Spirit lead me when my trus without boarders, let me walk upon the waters wherever you would call me.. Take my deeper than my faith could ever wonder and my faith will be made stonger in present of my saviour.."

Aku terdiam sejenak. Dan mulai menyanyikan bait lagu tersebut dengan pelan.. perlahan aku menitikan air mata. Segala hal yang ada dalam kepala seolah cair menjadi air mata. Perlahan tapi pasti isi otakku terasa ringan. Dengan mulut masih terus menyanyikan bait lagu tersebut segala hal yang aku ingin sampaikan pada Tuhan serasa diringkas dalam bait tersebut.

Ketika keadaan terlalu sulit untuk menjadi seperti apa yang kita mau, masih ada kemungkinan 0,01% yang mampu merubah keadaan itu. Sekalipun 99,9% buruk, namun tanpa 0,01% itu 99,9% tidak ada artinya.

Masih ada jalan. Datang pada Tuhan. Duduk di kakinya. Dia Tuhan yang mengerti setiap tetesan air mata kita. Dia Tuhan yang mengerti tanpa kita berbicara. Dia mengerti isi hati kita. Datang padanya dan serahkan segala kekhawatiran kita kepada Tuhan.

Jika Tuhan adalah segala-galanya bagi kita, kita akan mendapatkan semua yang kita perlukan.

Dari cerita ini, aku ingin mengajak teman-teman seiman untuk selalu berharap dan percaya pada Tuhan. Sebesar apapun masalah hidup kita, Tuhan lebih besar dari pada segalanya..

God bless..

Jumat, 27 Maret 2020

Tak pasti


Hari-hari ini cuaca sedang tidak mementu. Langit mendung lalu hujan, setelahnya panas kembali menyapa. Pula mendung menguasai langit.
Cuaca yang tidak sesuai harapan terkadang menurunkan kesehatan kita. Bisa jadi kita menjadi flu dan sakit kepala.
Saran dari saya, pakailah jaket saat keluar rumah. Agar terhindar dari udara yang bisa saja panas maupun dingin.
Moga juga, doinya tidak seperti cuaca. Setidaknya pasti. Jangan tak pasti.

Kamis, 26 Maret 2020

Talenta

Sedari kecil saya cukup bisa dikatakan cerdas untuk anak seusia saya. Saya bisa menilis huruf tegak bersambung saat saya masih di bangku Taman Kanak-kanak. Diantara teman seangkatan saya, saya paling jago dalam segala aspek, sosial, emosional, spiritual maupun intelegen. Saya sering menerima pujian dari orang-orang dewasa atas hal-hal yang saya lakukan. Jika pujian tidak terlontar selepas saya mengerjakan atau melakukan suatu hal, maka saya akan kembali mengoreksi diri atau paling tidak saya akan merasa jika yang saya lakukan tidaklah sesuaai dengan yang orang-orang harapkan. Hal itu terus menerus terjadi dan lambat laun menjadi kebiasaan saya. Saya selalu melakukan apa yang orang lain inginkan agar mendapatkan pengakuan dari orang lain. Hingga saya beranjak dewasa, saya semakin menemukan diri saya. Namun, prestasi yang pernah saya raih semasa kecil berangsur kabur hingga menghilang. Saat saya mencapai tingkat universitas, saya kehilangan arah. Saya semakin ragu akan jadi apa saya nantinya. Jika diputar kembali kenangan dulu, tentang cita-cita semasa kecil, ada begitu banyak profesi yang ingin saya gapai. Ternyata semakin dewasa seseorang, maka semakin mengerti akan hidup. Angan-angan dan kenyataan itu berbeda. Angan-angan berharga gratis, namun tidak dengan yang sebenarnya. Ada harga yang harus dibayar. 
Sejauh ini, dengan hobi dan talenta yang saya miliki, akhirnya saya mulai kembali membangun cita-cita.
Setiap manusia dilahirkan dengan talenta dan cita-cita masing. Tak ada yang tidak. Ada yang memiliki satu talenta, ada juga yang dua talenta maupun tiga talenta bahkan lebih. Sekecil apapun talenta yang kita miliki, cobalah untuk menghargai dan mengembangkannya. Karena bekerja sesuai telenta atau hobi adalah hal yang dapat membuat kita mencintai dan merasa bangga atas apa yang kita kerjakan.☺